Bekasimedia – Wayang Orang atau yang dikenal warga sekitar Masjid Gede Desa Karang Sari, Weru, Cirebon sebagai ‘Srimpi’ merupakan tradisi turun-temurun yang tetap dipertahankan dari era 80-an hingga sekarang.
Sudah lazim menjelang Idul Fitri, tepatnya hari terakhir puasa Ramadhan wayang srimpi ini diarak keliling dua desa sambil menari dengan iringan tetabuhan tradisional khas wayang srimpian.
Perjalanan arak-arakan dua desa ditempuh dari jam 15.30 WIB hingga jam 22.00 WIB, biasanya banyak anak-anak usia tanggung mengikuti kegiatan yang digelar setahun sekali ini.
Sayangnya, jika dilihat kemeriahannya konon makin tahun kegiatan tersebut makin sepi peminat, khususnya para pemain wayang srimpi yang mengenakan topeng.
“Akhir-akhir ini pemain wayang srimpi makin sedikit, mungkin karena sudah pada males, mungkin juga karena usianya sudah pada tua,” ujar Ahmad (30) seorang warga yang dulu pernah ikut jadi penari wayang srimpi, saat ditemui Bekasimedia, Kamis (16/7/15).
Ahmad kini hanya menjadi penonton saat wayang srimpi tampil, seperti warga desa yang lain.
Wayang Srimpi merupakan tradisi warga Cirebon, khususnya yang berada di lingkungan Masjid Gede, Desa Karang Sari, Weru.
Setiap penari wayang srimpi didandani sebagaimana tokoh pewayangan dengan dilengkapi topeng yang berbeda wajah untuk setiap orangnya. (Mk)
The post Wayang Srimpi, Tradisi Temurun Yang Tetap Dipertahankan di Cirebon appeared first on Bekasi Media.
Sumber Suara Jakarta