Setahun yang lalu parade kenaikan bendera, ups maaf parade kenaikan harga telah dimulai, diawali dengan kenaikan harga BBM, berikutnya komoditas lain melakukan copy paste merangsek naik. Perilaku harga ini berseberangan dengan iklan meubel di masa lalu, perilaku harga adalah kaladah berdiri (naik) lupa duduk (turun).
Terakhir harga daging sapi dan harga ayam, merupakan dua komoditas pendatang baru yang ikut-ikutan naik setelah berbagai komoditas lain yang terlebih dulu naik. Tidak hanya harga, berbagai sektor lainnya juga mengikuti.
Ini menarik, di Kampung Pulo ada puing-puing dan sesampahan yang naik ke alat-alat berat, ada juga batu yang naik melayang-layang di udara, perlawanan klasik terhadap arogansi kekuasaan. Masih dalam suasana hari kemerdekaan, merah putih kecil berkibar di antara kerumunan, naik tinggi sejauh panjangnya tiang dan jangkauan tangan lelaki yang membawanya.
Barangkali juga tontonan ini tak berkaitan dengan heroisme kemerdekaan, karena yang “kerumunan” itu dapatkan hanyalah sebuah semprotan segar berupa gas air mata. Beberapa anak naik ke tempat yang lebih tinggi nonton peristiwa yang sangat berkaitan dengan rasa kemanusiaan, padahal harusnya anak-anak dilarang nonton lo. Ini kan masalah 17 tahun ke atas, tuh lihat ada bapak-bapak yang tinggal celana kolor tanpa baju digendong ramai-ramai. Harusnya digendong itu enak dan asyik, tapi si bapak kok ketakutan ya?
Hanya satu yang turun, air mata di pipi emak, meraung karena barang-barang berpindah dari rumahnya dan sebentar lagi rumahnya akan remuk berpindah posisi. Mengenai masalah naik ini sepertinya di sisi kemanusiaan ada rasa yang hilang, dan yang takkan hilang itu hanya lagu masa kecil, naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Yah, “rasa” itu telah hilang, naik tinggi dan tinggi sekali.
Jakarta, 21 Agustus 2015
Kari Sutan
Foto: @febrofirdaus
The post Naik-Naik Ke Puncak Gunung
(Tinggi Sekali) appeared first on Bekasi Media.
Sumber Suara Jakarta