Semarak syiar dan khidmat peringatan Nuzulul Qur’an yang sudah melembaga dan membudaya di Nusantara ditanggapi positif oleh tokoh umat Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Dr. Nazaruddin Umar, merupakan tokoh dari PBNU dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas MA (Harian Republika, 22/06). Harapan keduanya hampir sama yakni Al-Qur’an Al-Kariim yang tadi malam diperingati turunnya semoga dapat diterapkan dan diamalkan nilai-nilai luhur dan ajarannya.
Para ulama, salafus shaleh dan para tabiut tabiin banyak yang mengupas tentang keutamaan, keagungan dan kemukzizatan Al-Qur’an. Contohnya Sayyid Qutb, rahimahullah, penulis Tafsir Fi Dzilalil Qur’an menyebut generasi pengganti (Generasi Robbani dan Qurani) yang dinanti sebagaimana diharapkan dalam Al-Qur’an dengan sebutan “جيل القران الفريد” yaitu generasi qur’ani yang unik. Sehingga kalau ingin umat ini kembali kepada kejayaannya seperti yang sudah terjadi di masa lalu maka suka atau tidak suka, mau atau tidak mau kita harus kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Sedangkan Sayyid Hasan Al-Banna menyebutkan beberapa point terkait kewajiban manusia muslim terhadap Al-Qur’an mulai dari mengimaninya, menjadikannya sebagai sahabat dan rujukan sampai pengamalannya yang tidak hanya melibatkan akal tapi juga harus melibatkab hati, karena Al-Quran yang diperingati dan kita baca bersama adalah Al-Qur’an yang ditutunkan Allah SWT “علي قلب محمد صلى الله عليه وسلم” kedalam hati nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan dalam kitab haditsu tsulasta “Ceramah-Ceramah Hasan Al-Banna Hari Selasa” menggambarkan seandainya ummat ini mengimani, memahami, mengikuti, dan mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka umat ini ibarat sedang memegang remot kebaikan dan peradaban menuju peradaban umat manusia di dunia yang kita harapkan dan idam-idamkan ; “بلدة طيبة ورب غفور” sebuah negeri yang subur, makmur, gemah, ripah, lohjinawi (repeh, rapih) dan mendapat ampunan dari Tuhannya.
Dr. Amir Faishal Fath dalam sebuah kajiannya menjelaskan secara lebih rinci, ada lima langkah dan aktivitas yang harus dilakukan dalam rangka mengamalkan Al-Qur’an yakni; At-Tilawatu (membacanya), Al-Hifdzu (menghafalkannya), Al-Fahmu (memahaminya), Al-Amalu (mengamalkannya) dan Ad-Dakwatu (mendakwahkannya).
Allah SWT memberikan perumpamaan kepada manusia orang yang membawa kitab suci tetapi tidak mau mengamalkannya dengan perumpamaan sbb. :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Q.S. Al-Jumu’ah (62) ayat 5
Karena kitab suci yang Allah turunkan berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia maka khusus kitab suci Al-Qur’an karena diturunkan dalam bahasa Arab maka dan buah dari tilawah dan tadarus Al-Qur’an adalah adanya sebuah perubahan karakter maka perlu langkah-langkah sebagai berikut :
- Menanamkan Keimanan yang Mendalam Tentang Kebenaran dan Kemukzizatan Al-Qur’an
- Mempelajari Tata Cara Membacanya dan Adab dalam Berinteraksi dengannya
- Berinteraksi dengan Al-Quran secara Kesinambungan sebagaimana dijelaskan di atas mulai dari, Membacanya (tahsin, tilawah atau tadarus, Menghafalkannya (tahfidz), Memahaminya (tadabbur), Mengamalkannya (ta’amul/takhollaqu bikhuluqil qur’anil adhim), Mendakwahkannya (dakwah Al-qur’an)
Perkembangan dakwah Al-Quran saat ini alhamdulillah telah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan.
Jika pada era tahun 1990-an di nusantara marak dengan tumbuhnya lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an maka pada era 2000-an ditambah dengan tumbuhnya rumah tahfidz atau pesantren Al-Qur’an dan sekolah islam yang birbasis Tahdin-Tahfidz atau pendidikan Al-Qur’an.
Semoga peringatan Nuzulul Quran yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 17 Ramadhan di Indonesia membawa berkah dan perkembangan dakwah Al-Quran di bumi Nusantara dan membawa kebaikan pada kulaitas hidup dan kesejahteraan masyarakatnya.
Dan yang lebih penting adalah peringatan nuzulul Quran menjadi sarana persiapan dan bekalan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan yang di dalamnya ada Malam Lailatul Qodar.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
QS. Al-Qodar ayat 1-5
Wallahu’alam.
Bekasi, 22/06/16
@dimyat1
The post Al Quran, Peringati Turunnya, Amalkan Isinya! appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta