Ramadhan dan Pemakmuran Masjid

Berkah Ramadhan tidak hanya ada di pasar dengan banyaknya komoditas yang diperjualbelikan oleh para pemburu harta dunia dan kekayaan yakni para pebisnis dan pedagang, tetapi dirasakan juga oleh para pemburu akhirat (surga) dan pelaku perniagaan Allah dan bisnis bersama Allah SWT dan Rasul-Nya.

Apalagi di sepuluh hari pertama hampir semua pengurus DKM (Dewan Kesejahteraan/Kemakmuran Masjid) mengakui bahwa masjid atau mushollanya penuh ‘meluber’ sampai ke teras bahkan ke halaman masjid. Adalah satu bukti keberkahan bulan suci Ramadhan bagi umat manusia. Tak sedikit diantara kita saat memasuki sepuluh hari kedua dan ketiga kelelahan atau kesibukan sering kali menghinggapi atau menerpa, tapi tentunya tidak bagi mereka yang sudah memahami, meyakini dan memilih pilihan yang terbaik yakni keutamaan 10 hari terakhir dan Lailatul Qodar khususnya untuk masa depannya yakni keutamaan hidup untuk negeri akhirat.

Mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari mulai dari persiapan keilmuan tentang keutamaan 10 hari yang terakhir, keutamaan malam Lailatul Qidar, yang nilainya melebihi ibadah 1000 bulan, dan keutamaan memakmurkan masjid dengan cara lebih mendekatkan diri di dalamnya melaui ibadah yang disebut dengan I’tikaf.

Berlandaskan pemikiran tadi maka pada kesempatan Tadabur Harian Ramadhan (THR) edisi ke-16 hari ini mengangkat tema tentang “Ramadhan dan Pemakmuran Masjid”.

Sesuai petunjuk dari Allah SWT dalam Al-Quran dan anjuran/ajaran dari nabi dan rosul junjungan kita Muhammad SAW baik melalui haditsnya atau sejarah hidupnya maka keberadaan masjid bagi umat Islam merupakan hal yang monumental dan sangat erat kaitannya dengan keimanan (aqidahnya).

Semakin cinta dengan masjid, semakin makmur sebuah masjid semakin semarak dakwah di lingkungan masjid maka itu menjadi pertanda keimana dan ketaqwaan para jamaahnya, para pengurusnya dan warga yang ada di sekitarnya. Hal ini bukan kata penulis atau kata tokoh pendidikan atau kata ulama, tetapi dinyatakan dan disampaikan langsung oleh Rosul-Nya melalui haditnya yang penulis kutip dari kitab Riyadhus Shalihin :

اذا رايتم الرجل يعتد بالمسجد فاشهدو بالايمان …

“Apabila kamu melihat seseorang pulang-pergi (bulak-balik) dari dan ke masjid maka saksikanlah bahwa dia itu orang yang beriman”.

Hadits diatas menjadi penguat dari ayat Al-Quran yang berbicara tentang pemakmuran masjid. Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

QS. At-Taubah (9) ayat 8

Jika kita menelaah rangkaian ayat-ayat tentang pemakmuran masjid yang ada di dalam surat At-taubah mulau dari ayat sebelumnya (ayat 17) dan pindah ke ayat berikutnya yakni ayat 107 dan 108 maka kita akan mendapati pencerahan dan petunjuk bagaimana memakmurkan masjid, siapa yang berhak memakmurkan masjid dan untuk apa kita memakmurkan masjid.

1. Bagaimana Memakmurkan Masjid?

Yaitu dengan cara menanamkan, menumbuhkan, menghidupkan keimanan pada hati para pengurusnya, hati para jamaahnya dan hati para warga yang ada disekitarnya melaui beragam bentuk ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh. Masjid bukan hanya untuk shalat saja, atau hanya untuk majelis ilmu saja, atau hanya untuk zakat dan muamalah saja. Masjid adalah sebagai pusat ibadah, taklim atau dakwah serta menjadi sarana penguatan muamalah umat Islam.

Memasuki hari-hari terakhir Ramadhan terutama 10 hari yang terakhir ibadah, dakwah dan muamalah di masjid idealnya harus lebih semarak dibandingkan dengan di sepuluh hari pertama atau kedua, karena Rasulullah demikian mengajarkannya kepada umatnya :

اللهم اجعل خير ايامي يوم القاك وخير عمري اواخره وخير عملي خواتمه …

Adalah  diantar doa nabi kita yang dibaca, yang artinya :

“Ya Allah! Jadikan hariku yang paling baik adalah hari dimana aku berjumpa dengan-Mu, umurku yang paling baik adalah umur yang terakhir (husnul khotimah) dan amalku yang terbaik adalah amal yang terakhir”.

Jadi cara memakmurkan masjid terutama di 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan cara melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid) yang disi dengan ibadah baik mahdhoh atau ghoiru mahdhoh.

Dengan i’tikaf maka seluruh rangkaian kegiatan pemakmuran masjid insya Alah akan terlampaui, mulai dari shalat fardhu berjamaah, tadarus, tilawah atau tadabbur Al-Quran, shalat sunnah, mulai dari sebelum fajar, saat fajar, saat syuruq, saat dhuha, qobliyah dan ba’diyah serta shalat sunnah yang lainnya (sahalat mutlaq).

Dalam satu hadits yang ada dalam kita Riyadhus Shalihin dijelaskan tentang keutamaan shalat Isya berjamaah dan Shubuh berjamaah, yaitu pahalanya sama dengan beribadah Qiyamullail semalaman penuh (suntuk). Semoga kita dapat melaksanakan i’tikaf baik sendiri-sendiri atau secara berjamaah.

Allah SWT berfirman :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
QS. 2 : 187

2. Siapa yang memakmurkan masjid?

Dalam Al-Quran secara jelas Allah SWT telah menjelaskan dalam surat At-Taubah (9) ayat 18 :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Semoga kita terpanggil untuk menjadi pemakmur masjid. Agar kita terpanggil untuk memakmurkan masjid maka caranya sederhana saja jika kita merasa tidak pantas ke masjid karena dosa atau maksiat yang ada maka mau pergi kemana lagi? Mau mencari tempat yang mana lagi? Justru kalau kita merasa banyak dosa atau salah maka saatnya sekaranglah kita mendekatkan diri dan bertaubat kepadanya dengan doa yang diajarkan oleh Rosulullah di bulan Ramadhan umumnya dan di saat asyrul awakhir khususnya untuk mendapatkan malam kemuliaan dengan doa :

اللهم انك افو تحب العفو فاعف عني ….

“Ya Allah sesunguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Maaf, Maka Maafkanlah aku, …”

Sebaliknya jika kita merasa sebagai seorang yang beriman, taat patuh kepada Allah dan Rosul-Nya, sebagai aktivis sekolah Islam, sebagai aktivis Rohani Islam atau Ormas Islam maka sangat pas sekali kalau kita menjadi pelopor pemakmur rumah Allah SWT yakni Masjid. Semoga dengan kepeloporan anda jamaah pada umumnya tinggal mengikuti jejak dan langkahnya saja.

3. Untuk apa kita memakmurkan masjid?

Dalam suatu hadits disebutkan seburuk-buruknya tempat adalah pasar sedangkan sebaik-baiknya tempat adalah masjid. Namun demikian bukan berarti kita sebagai muslim anti dengan pasar, anti dengan bisnis dan perniagaan dalam rangka mencari keutamaan dunia, tetapi sebagai muslim kita dibingkai dengan sebuah frame kehidupan yang batas-batasnya itu sangat luas sampai ke negeri akhirat. Allah SWT menjelaskan dalam surat Al-Jumu’ah (62) ayat 9 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Tujuan memakmurkan masjid bukan tujuan mendapatkan dunia, tujuan yang buruk, kotor atau tujuan yang rendah lainnya. Tujuan memakmurkan masjid adalah tujuan yang sangat mulia yakni mempersatukan umat dalam satu wadah kebersamaan selaku hamba-hamba Allah yang bersaudara, yaitu di rumah-Nya, rumah Allah SWT yang bernama masjid.

Memakmurkan masjid juga bukan hanya untuk mengutamakan kepentingan satu atau dua golongan tapi untuk kepentingan setiap golongan atau organisasi umat Islam, baik dari NU, Persis atau Muhammadiyah dll. (dalam skala nasional di nusantara), dalam skala madzhab antara Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi, dalam skala global atau internasional masjid bukan hanya untuk golongan salafi, jamaah tabligh atau hizbut tahrir, atau hanya ikhwanul muslimin saja, tapi masjid adalah untuk seluruh kaum muslimin seluruhnya kecuali mereka yang menyimpang dari ajaran Islam atau yang ingin merusak agama Allah. Masjid yang diharapkan itu seperti masjid yang kita saksikan di Masjidil Harom Makkah, Masjid Nabawi Madinah dan masjid-masjid besar lainnya di dunia. Ingatlah sabda nabi kita SAW :

وكونوا عباد الله اخوانا….
“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara…”

Allah SWT Berfirman :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

QS. At-Taubah / 9 : 107-108

Wallahu a’lam bishowab.

Masjid Al-Ihsan, 21/06/16

@dimyat1

The post Ramadhan dan Pemakmuran Masjid appeared first on BEKASIMEDIA.COM.



Sumber Suara Jakarta

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama