Ramadhan Momentum Perbaikan Keluarga Lebih Sakinah Mawaddah Warahmah

Seperti telah ditulis pada Tadabur Harian Ramadhan yang ke-14 bahwa tujuan puasa dan ibadah Ramadhan dalam Islam sudah jelas termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 183 (Taqwa), ayat 185 (Syukur), ayat 186 (Rosyid/Irsyad). Bahkan dipertegas lagi pada ayat 187-nya yaitu agar kita menjadi manusia yang bertaqwa.

Pembentukan pribadi yang bertaqwa tidak terlepas dari pembentukan rumah tangga atau keluarga yang bertaqwa. Sering orang menyebutnya dengan ungkapan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” artinya anak yang terbentuk dalam keluarga tidak jauh sifat dan wataknya dari kedua orangtuanya.

Seperti pada hadits yang telah disampaikan sebelumnya bahwa anak terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang membuat anaknya itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Bulan Ramadhan yang syiar dan pengaruhnya begitu besar dalam kehidupan manusia khususnya sebagai muslim, seharusnya jadi momentum dalam pembentukan dan perbaikan keluarga menjadi keluarga yang lebih sakinah, mawaddah dan rohmah.

Penulis tidak akan membahas apa itu sakinah (ketenangan), mawaddah (kesetiaan) dan rohmah (kasih dan sayang), tetapi pada kesempatan ini hanya akan melihat dari sudut pandang ibadah puasa dalam pembentukan keluarga sakinah mawaddah warohnah.

Pengaruh positif ibadah puasa yang waktunya dilakukan secara maraton selama sebulan penuh itu sangat efektif dalam membentuk karakter yang diharapkan oleh ajaran Islam dan berefek ganda jika dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah, petunjuk nabi dan para sahabatnya serta nasehat alim ulama, baik dalam skala pribadi atau sosial kemasyarakatan, seperti keluarga.

Rasulullah SAW bersabda :

الصوم جنة فاذا كان يوم صوم احدكم فلا يرفث ولا يصخب فان سابه احد اوشاتمة فليقل اني صائم (رواه البخاري والمسلم)

Artinya :
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang diantara kalian mengerjakan puasa pada suatu hari maka janganlah melalukan rofast dan yaskhob untuk itu jika ada yang menghardik atau mencacinya, maka hendaknya mengatakan ; aku sedang puasa.”
H.R. Bukhori Muslim

Jangan Rofats (nafsu/sahwat)
Jangan yaskhob (emosi/keras)

Jangan ada yang menghardik atau hardikan saat kita berpuasa, suasana kondusif harus dihadirkan saat kita sedang berpuasa. Meskipun dalam hadits yang lain sudah dinyatakan bahwa saat bulan puasa Ramadhan tiba, pintu surga dibuka seluas-luasnya, pintu neraka ditutup rapat-rapat dan syaitan-syaitan dibelenggu, tetapi dalam diri kita ini masih ada musuh nyata kita selain syaitan yakni hawa nafsu, dari situlah yang selalu dijadikan sebagai pintu untuk masuknya syaitan dalam menggoda manusia.
 
Kembali kepada tema diatas bahwa Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menjadikannya sebagai sarana untuk membentuk dan mengembalikan keluarga kita menjadi sakinah, mawaddah, warohmah, melaui langkah-langkah berikut ini :

1. Melalui doa-doa munajat Ramadhan yang kita panjatkan selipkan doa agar dikaruniai keluarga yang lebih bertakwa, lebih bersyukur dan mendapatkan petunjuk atau hidayah-Nya. Doa lainnya adalah sebagaimana diabadikan doanya dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon (25) ayat 74 :

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

2. Selain itu maka dilanjutkan dengan pendidikan ibadah, melalui pendidikan Ramadhan mulai dari didikan shalatnya, zakatnya, puasanya, tilawah atau tadarus Al-Qur’an nya dll. Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh (2) ayat 185  :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

3. Dengan keteladanan dalam bidang keimanan, ketaqwaan dan tutur kata yang baik (nasehat, peringatan, perintah dan larangan. Allah SWT Berfirman dalam surat An-nisaa (4) ayat 9 :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Pembentukan keluarga sakinah mawaddah warohmah, yang diawali dengan pernikahan serta membangun rumah tangga, indikator kesuksesannya dapat dilihat salah satunya adalah dari kesuksesannya dari sisi pendidikan anak.

Sementara dari sisi pendidikan ibadah shalat kita diajarkan oleh Rasulullah untuk mendidik dan mengajarkannya sejak dini atau 7 tahun sedangkan jika usia 10 tahun belum tertanam maka orang tua berhak untuk ‘memukulnya’.

Sedangkan bagi pemuda dan pemudi yang belum mampu atau sempat menikah maka ibadah puasa merupakan sarana ibadah yang efektif untuk menjada kesucian dirinya dan mencegah diri dari penyimpangan atau penyelewengan nafsu atau seksual.

Rasulullah SAW Bersabda :

“Barangsiapa yang sudah mampu menikah maka hendaklah menikah karena nikah itu lebih menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu adalah wija‘ (mengendurkan gejolak sahwat) baginya.”

H.R. Al-Bukhori

Semoga dengan ibadah puasa Ramadhan ini, para pemuda-pemudi muslim mampu menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya,  yang ‘jomlo’ segera diberi kekuatan menikah, yang sudah berkeluarga semoga rumah tangganya lebih sakinah, mawaddah, warohmah.

Walahu a’lam.

Bekasi, 20/06/16

@dimyat1

The post Ramadhan Momentum Perbaikan Keluarga Lebih Sakinah Mawaddah Warahmah appeared first on BEKASIMEDIA.COM.



Sumber Suara Jakarta

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama