“Tamu Kecil Itu Jadi Imam Pengganti di Mushola Kami”

Baru kali ini tarawih terasa lain. Ini yang saya alami seumur hidup saya. Malam ke 9 Ramadhan 1438 Hijriyah, mushola kecil kami, Mushola Azzahro, Perumahan Bunga Raya, Bekasi Timur kedatangan seorang tamu kecil dengan lilitan sorban di leher. Setelah muadzin mengumandangkan adzan, dia dengan takzim mencium tangan muadzin lalu memperkenalkan diri. Tak lama kemudian takmir masjid yang lain datang. Sang muadzin menjelaskan jati diri si anak tersebut, karena saya lihat beliau masih bingung, maka saya membantu menjelaskan kepada takmir masjid tentang profil anak tersebut.

“Oo..anaknya Ustadz Sadzali…terus dia..?” Sang Takmir masih gamang.
“Iya, Pak! jadi Ustadz Sadzali berhalangan datang, jadi anak itu yang akan menggantikan tugas ayahnya. Namanya Qori.”

Tampak raut muka sang takmir masih seperti tak percaya. Saya coba menguatkan, “Pak, anak itu Al Hafidz.”

Sang takmir manggut-manggut walaupun masih terkesan gamang, mungkin di dalam hatinya berbisik, “masa iya bocah sekecil itu bisa jadi imam”.

Walaupun saya bukan ibunya, sebagai seorang ibu, hati saya pun ikut dag dig dug, kiranya Qori, bocah kelas 9 yang baru berumur 14 tahun itu bisa gak menunaikan tugasnya dengan baik, jangan-jangan kegamangan sang takmir jadi kenyataan…

Rakaat pertama…
Al Fatihahnya dengan tartil yang merdu dan menyentuh jiwa terdalam.
Selanjutnya, pilihan surat yang dia baca bukanlah surat surat pendek di juz 29 atau juz 30, tapi surat-surat panjang yang saya sendiri tidak hafal, tapi sungguh indah untuk disimak.

Ya Allah, Nak…
Baru di rakaat pertama saya yakin, Qori pasti mampu menghapus kegalauan sang takmir tersebut.

Isya’ selesai disambung dengan taujih, ternyata Qori lagi yang memimpin.

Fasih bahasanya, ulasannya mendalam. Setiap ulasan selalu dia sertai dengan ayat Al Quran atau Hadist LENGKAP dengan perawinya.

Masya Allah…
Setelah itu lanjut Sholat tarawih, Qori lagi yang memimpin. Pilihan suratnya masih sama, surat-surat panjang, yang ia potong. Rupanya Qori paham, banyak jamaah ibu-ibu dengan anak kecil, ada juga kakek dan nenek,sehingga tak bijak kalau dia memperpanjang rakaat. Hingga rakaat ke 8 selesai, entah kenapa suara hati ini,
“Yaahhh…kok udah mau selesai siih…yaaahhh… ”

Masya Allah…
Tarawih yang teramat mengharu biru malam itu.

Selesai tarawih, Qori disandera bapak-bapak dan remaja masjid. Dia tampak ditanya ini itu, suguhan kolak ditangannya hanya sedikit yang mampu dia makan karena sepertinya Qori kerepotan menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi. Takmir yang awalnya gamang sekarang tampak terkagum-kagum.

Saya coba telisik tentang kehebatan bocah itu ke Umminya. Kebetulan Umminya diam-diam menguntit di shaf belakang, tanpa sepengatuan Qori.

Qori dari sejak umur 7 tahun sudah menimba ilmu di Kampung Ayahandanya, di Ngawi, JATIM. Lanjut ke Pesantren Darul Qirom, Bandung. Namun hanya 1,5 thn. Qori lebih tertarik mengikuti seleksi Pesantren Qur’an Al Amanah yang saat itu hanya 2 anak yang diterima, salah satunya Qori.
Tahun ajaran baru, Qori melanjutkan ke Darul Quran Mulia selama 2 tahun. Selanjutnya, Qori punya keputusan yang unik, entah kenapa tiba-tiba ia ingin melanjutkan hafalannya di tempat lain. Kala itu Qori memilih Ma’had Tahfidz Al Hikmah, Parung, Bogor. Di situlah Qori menyelesaikan seluruh sisa hafalan Qur’annya, hanya dalam 2 bulan. Dan di usianya yang ke 13 tahun, Qori sudah hafidz.

Jazakumullaah Ustadz Sadzali dan Ustadzah. Susi yang telah memberikan inspirasi mendidik generasi tarbiyah laksana bintang seperti Qori, hadir sebagai contoh di tengah-tengah gulita pergaulan anak-anak remaja yang teramat memprihatinkan.

Qori sayang…
Semoga engkau menjadi kebanggaan orang tuamu dunia akhirat dan bintang di tengah-tengah ummat.

Barokallaah

Oleh: Dina Rahmawati

The post “Tamu Kecil Itu Jadi Imam Pengganti di Mushola Kami” appeared first on BEKASIMEDIA.COM.



Sumber Suara Jakarta

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama