BEKASIMEDIA.COM — Direktur Koordinator Badan Amil Zakat Nasional, Muhammad Nasir Tajang mengatakan pentingnya bersinergi dengan para Da’i dalam menyalurkan zakat bukan hanya pada tataran distribusinya tapi lebih jauh dari itu adalah dampak yang harus juga dibangun secara bersamaan, yakni hadirnya akhlak mulia sebagai manifestasi keberkahan zakat itu sendiri. Hal itu ia sampaikan usai memberikan materi Seminar Zakat Nasional untuk Para Da’i bertajuk “Peran Da’i dalam Pemberdayaan Pengelolaan Zakat untuk Kemakmuran Bangsa” yang diselenggarakan oleh Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Jakarta dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berlangsung di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Ahad (21/5).
“Kalo kita bicara penyaluran zakat bahwa yang menjadi target kita tidak hanya ekonominya tumbuh, tapi juga akhlak. Kami anggap gagak kalau penyaluran itu ke mustahiq ekonominya tumbuh sedang akhlaqnya turun dan ini masalah. Jadi semuanya harus simultan untuk itu di sinilah pentingnya peran para da’i,” pungkasnya.
Kami telah membuat indikator keberhasilan penyaluran salah satunya adalah bagaimana pelaksanaan nilai-nilai agama, jadi secara otomatis peran para da’i itu akan luar biasa. Kedua, sebagaimana yang menjadi fenomena kita banyak sekali mustahik yang menjadikan profesi ini, dengan kita melihat peran mereka ini tentunya mereka juga mempunyai binaan, mungkin mereka punya majelis taklim binaannya, desa-desa binaannya. Kemudian mereka juga mengetahui potensi-potensi ekonomi di sana dan mereka juga bisa merekomendasikannya ke BAZNAS, mereka juga bisa menjadi agen.
Lebih lanjut Tajang mengatakan apabila potensi zakat ini tak bisa dimaksimalkan maka yang terjadi adalah kerusakan sistemik pada tataran sosial masyarakat.
“Kalau kita tak berhaji dosanya hanya kepada Allah, dampaknya hanya kepada kita karena berdosa, tapi kalau kita tidak berzakat tidak hanya berdosa kepada Allah karena tidak membayar zakat namun juga kesenjangan, kemudian juga potensi dana yang bisa untuk membangun ummat seperti beasiswa, membangun ekonomi bisa terwujud. Jadi ada kebutuhan-kebutuhan dasar orang miskin tidak terpenuhi kalau zakat ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik, kalau haji tidak ada dampak ke sananya begitu pula dengan puasa tidak ada dampak ke sananya tapi kalau zakat ini dampaknya luar biasa,” imbuhnya.
Peran negara sangat penting karena memang yang mempunyai kewenangan memaksa itu ada pada negara. Selain negara tidak mempunyai kewenangan untuk memaksa. “Seperti kita ketahui zakat itu merupakan ibadah yang di dalam Al Qur’an menggunakan kata “hudz” (ambilah) hanya memang harus ada kekuasaan disana, tanpa hal itu kita bisa lihat bagaimana sahabat Abu Bakar ra menggunakan momentum kekuasaan itu untuk memerangi orang yang mau membayar zakat setelah sepeninggalan Rasulullah saw,” imbuhnya.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan BAZNAS bisa bersinergi dengan para ulama dan da’i tidak hanya pada penyaluran, tapi juga berharap para da’i ini bisa menjadi bagian di dalamnya mewujudkan kebangkitan zakat di Indonesia. “karena kesadaran masyarakat Islam masih harus dibangun dan juga pemahaman yang utuh terkait zakat.” Pungkasnya. (dns)
The post Direktur BAZNAS: Jika Zakat tak Maksimal, Berpotensi Munculkan Kerusakan Sistemik appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta