BEKASIMEDIA.COM – Siang itu di Pasar Klender Perumnas Klender Jakarta Timur, seorang bapak lanjut usia dengan penuh semangat mengatur posisi kendaraan yang parkir di sekitar pasar demi mendapatkan sepeser rupiah. Pak Oey, bapak itu biasa dipanggil. Untuk sampai ke Pasar Klender, ia terbiasa berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari rumahnya yang terletak di Jalan Wijaya II, Perumnas Klender, Klender, Malaka Jaya, Jakarta Timur.
Pak Oey kelahiran Tegal Jawa Tengah, 70 tahun silam. Ia merupakan ayah dari enam orang anak yang kini kesemuanya telah berkeluarga, bekerja dan mempunyai urusannya masing-masing. Menurutnya, ia telah bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Perumnas Klender sejak tahun 2010.
“Iya, biasa jaga parkir, tukang parkir kegiatan saya,” ujarnya dengan wajah kelelahan usai mengatur posisi kendaraan yang akan parkir.
Bekerja selama 7 tahun bukanlah waktu yang singkat, waktu demi waktu telah dilaluinya di pasar yang cukup vital di wilayah Jakarta Timur itu.
Ia bekerja dari hari Senin sampai hari Minggu atau tak mengenal istilah libur. Dengan pembagian jadwal kerja shift. Jadwal jam kerja pagi dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore dan jadwal jam kerja sore dari pukul 4 sore hingga 10 malam.
Profesi sebagai tukang parkir memang penghasilannya tak seberapa, terkadang kebutuhan sehari-harinya tidak terpenuhi. “Ngga, ngga digaji. Ya, dapetnya dibagi aja setiap hari. 10 persen untuk pengelola,” ucap Pak Oey sambil menggosok mata dengan tangannya.
Di bawah terik matahari yang begitu panas, kulitnya kering dan warna kulitnya berwarna hitam kemerah-merahan seperti terbakar. Belum lagi udara yang tidak sehat. Namun, Pak Oey tetap setia membantu keamanan parkir di pasar karena isterinya yang berasal dari Cirebon, berusia 73 tahun, beda 3 tahun dengannya hanyalah sebagai ibu rumah tangga biasa. Anak pertama yang hidup bersamanya juga hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Hal inilah yang membuat Pak Oey tetap setia dan tetap semangat bekerja sebagai tukang parkir di pasar walaupun hasilnya terkadang tidak menentu.
Tarif parkir di pasar untuk kendaraan motor sebesar dua ribu rupiah dan untuk kendaraan mobil sebesar lima ribu rupiah. Tapi, masih saja ada seseorang yang memberinya dengan tidak menentu. Kadang kurang dari tarif yang ditentukan, kadang lebih dari tarif yang ditentukan. “Ya, ngga nentu,” ucapnya.
Topi yang sudah usang yang bertuliskan ‘security’ ia gunakan untuk menjaga kepalanya agar tidak terkena langsung teriknya matahari maupun hujan. Peluit yang dikalungkan di lehernya agar pengendara dapat mendengar dan memerhatikan posisi parkir kendaraannnya, dan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya sebagai pengingat waktu bagi dirinya agar selalu menunaikan ibadah sholatnya dengan pergi ke masjid atau mushola terdekat di pasar. Semuanya itu merupakan atribut yang setiap hari ia bawa dan gunakan untuk menjalankan pekerjaannya, mengatur dan menjaga parkir.
Dan, ia tidak lupa untuk menggunakan rompi yang warnanya sudah menghilang, luntur dimakan oleh waktu agar ia terhindar dari jahat dan dinginnya angin malam ataupun cuaca buruk.
Kesulitan menjadi tukang parkir tak pernah ia rasakan. “Ya, kalo udah biasa mah ngga ada kesulitan. Pasti dijalani saja, kalo udah biasa. Kalo udah kerjaannya dan dijalani mah seneng-seneng aja. Apa adanya aja lah,“ ungkapnya sambil tersenyum bahagia dan tertawa kecil.
Semangat hidup yang tak pernah pupus dalam jiwa seorang bapak yang sudah lanjut usia, ia selalu menjaga parkir di pasar, menerima penghasilannya dengan lapang dada dan selalu berharap Sang Pencipta melimpahkan rezekinya dan diberikan kesehatan serta tenaga yang kuat meskipun keenam anaknya telah bekerja.
“Ya, begini saja, selagi masih kuat dan masih ada tenaga,” ucap Pak Oey sambil menyeruput kopi kemasan siap saji, ketika ditanya tentang harapannya.
Oleh Yolanda Bonnita
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta
The post Oey, Pak Tua Penjaga Parkir di Pasar Perumnas Klender appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta