BEKASIMEDIA.COM — Pengamat politik jebolan Universitas Indonesia, Harun Arrasyid berpendapat merosotnya partisipasi politik masyarakat terhadap pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara umum baik lokal, nasional maupun di berbagai negara di dunia cenderung diametral. Partisipasi politik tidak dilihat dari kedatangan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tetapi bisa juga dalam bentuk partisipasi lain dalam berpendapat di media soaial maupun konvensional.
“Politik perkotaan di berbagai negara memang kecenderungannya antara demokrasi dengan partisipasi politik itu diametral, artinya partisipasi itu tidak dilihat sebagai bentuk kehadiran masyarakat di Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan tetapi partisipasi bisa dalam bentuk banyak hal termasuk juga dalam berpendapat di media sosial,” ujarnya Selasa (9/5).
Lebih lanjut Harun mengatakan tren politik kelas menengah perkotaan cenderung memang terjadi penurunan partisipasi di tingkat pemilihan TPS. Hal ini kata Harun, bukan saja terjadi di Indonesia namun dibeberapa negara juga terjadi hal yang sama, misalnya New York, Amerika Serikat, partisipasinya sangat rendah. Orang mau datang ke TPS bahkan juga sekarang ada kecenderungan di negara Australia ini juga sangat rendah, dan memang ini menjadi tren baru masyarakat kelas menengah perkotaan.
Faktor kedua penyebabnya daya tarik dari kandidat yang mampu membuat pemilih itu mau datang ke TPS. Bagi calon kandidat yang kurang bersinar, saat berlaga di ajang pemilihan kepala daerah ini juga menjadi persoalan karena berpengaruh terhadap respons politik masyarakat menengah perkotaan. Partisipasi politik menurut Harun bisa dilihat dari banyak sisi, salah satunya keikutsertaan masyarakat dalam berpendapat di media sosial. Fenomena ini justru tren kecenderungannya lebih dominan.
Tentu saja hal ini berbeda dengan target yang diinginkan oleh penyelenggara pemilihan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Penyelenggara menginginkan partisipasi itu dilihat dari jumlah mereka yang datang karena menganggap jumlah yang datang ini berkolerasi dengan keberhasilan pembangunan demokrasi.
“Semakin banyak yang datang semakin menunjukan demokrasi, saya kira ini pemikiran yang tidak tepat. Karena demokrasi tidak dilihat dari cara orang datang ke TPS, demokrasi itu cara orang melihat perbedaan berpendapat, cara menyelesaikan konflik melalui kelembagaan, cara menghargai hak-hak orang lain dan saya pikir sah-sah saja,” imbuhnya. (dns)
The post Pengamat Politik: Merosotnya Partisipasi Publik Tren Baru Masyarakat Kelas Menengah Perkotaan appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta