Bekasimedia – PT Holcim Indonesia Tbk mengumumkan kinerja perusahaan untuk periode tahun keuangan 2015, Rabu (16/3/16) kemarin. Perusahaan tercatat telah menyelesaikan restrukturisasi dan integrasi dengan PT Lafarge Cement Indonesia, ditengah situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tertundanya realisasi belanja negara.
Himbauan Pemerintah untuk menurunkan harga jual semen produksi BUMN pada awal tahun 2015 lalu, telah berdampak pada pendapatan bisnis di sektor tersebut, sementara permintaan cenderung menurun. Konsumsi semen nasional 5% lebih rendah pada akhir semester pertama tahun lalu yaitu 28 juta ton. Setelah anggaran belanja Pemerintah akhirnya disetujui, proyek-proyek infrastruktur mulai berjalan dan permintaan mencapai peningkatan pada periode semester kedua, walaupun tetap belum cukup menutupi hingga akhir tahun, konsumsi semen nasional pun turun menjadi 60.9 juta ton atau 1.7% lebih rendah dari tahun 2014.
Kinerja tahun 2015
Dengan situasi pasar ditengah perlambatan ekonomi, Holcim mencatatkan penurunan pendapatan 2.6% menjadi Rp 9.2 triliun. Perusahaan mencatat laba sebesar Rp 175 milyar, turun dari Rp 660 milyar pada tahun 2014, yang merupakan cerminan dari lesunya penjualan ditambah lonjakan biaya-biaya dari penyelesaian proyek pabrik baru di Tuban, peningkatan tarif dasar listrik, dan biaya restrukturisasi sebelum dilakukannya integrasi dengan PT Lafarge Cement Indonesia.
Gary Schutz yang telah ditunjuk menjadi Country CEO dari perusahaan gabungan tersebut, telah mendapatkan ijin/persetujuan pada akhir tahun 2015 berdasarkan ketentuan dan peraturan yang ada, dengan tetap mempertahankan PT Holcim Indonesia Tbk sebagai entitas korporat dan dengan demikian menjadi bagian dari LafargeHolcim Group di dunia.
“Walaupun tahun 2015 diwarnai dengan tekanan harga dan penurunan pendapatan, kami tetap mampu mempertahankan pangsa pasar, melakukan restrukturisasi untuk operasional yang lebih efisien dan produktif, serta sukses menyelesaikan proses integrasi dengan Lafarge Indonesia,” kata Gary.
“Kami memandang tahun 2015 sebagai masa refleksi sebelum menyongsong pertumbuhan yang lebih kuat seiring dengan perkembangan Indonesia kedepan. Kini kami memiliki kapasitas di Sumatera, pabrik modern di Tuban, Jawa Timur, memperluas jangkauan pasar, dan jajaran Direksi yang kompeten untuk memberikan nilai dari kombinasi keahlian, inovasi, dan teknologi dari produsen bahan bangunan terbesar di dunia, bagi para pelanggan,” sambungnya.
Persaingan ketat ditambah lesunya permintaan, menjadi tantangan besar bagi para pelaku bisnis semen selama 2015. Holcim tidak berdiam diri, namun tetap mampu mempertahankan pangsa pasar, mencapai pertumbuhan volume 10% pada semester kedua hingga akhir tahun lalu sebesar 8.64 juta ton. Namun, tekanan harga dan tingginya faktor biaya telah berdampak pada marjin laba kotor dari 29.3% menjadi 23.2% dan dengan demikian berdampak pula pada penurunan pendapatan. Anjloknya harga minyak pada semester kedua cukup menolong faktor biaya bahan bakar, namun kenaikan biaya justru terjadi pada tarif dasar listrik, depresiasi atas pabrik baru dan perlengkapannya, serta tingginya biaya operasional. Biaya-biaya keuangan mengalami peningkatan, bahkan lebih tinggi karena tingkat suku bunga pinjaman dan modal untuk perluasan kapasitas dan lemahnya nilai tukar Rupiah sepanjang tahun.
Pandangan kedepan
Perjalanan untuk kembali pulih sepenuhnya, masih jauh terutama dengan situasi ketidakpastian di Asia Tenggara, Tiongkok, dan secara global pada umumnya. Namun, Indonesia tetap memiliki potensi pada pasar ritel karena potongan suku bunga lokal, kemudahan KPR, rendahnya pinjaman terhadap GDP, dan kebutuhan perumahan yang masih tinggi.
“Perusahaan kini memiliki kemampuan lebih untuk memenuhi kebutuhan domestik, mulai dari jalan lintas Trans Sumatera sepanjang 2,600 km yang baru saja dimulai, hingga proyek pembangkit listrik berdaya 35,000 MW milik Pemerintah, dan infrastruktur lain seperti pelabuhan, bandara, dan jembatan,”imbuh Gary.
Transformasi yang dilakukan oleh para pemimpin daerah di Jakarta, Surabaya dan Bandung untuk menjawab kebutuhan jangka panjang perkotaan, merupakan peluang bagi perusahaan untuk berkontribusi melalui solusi dan keahlian, tidak hanya menyediakan semen sebagai komoditi semata. (*/eas)
Tentang PT Holcim Indonesia Tbk
PT Holcim Indonesia Tbk (Holcim Indonesia) adalah sebuah perusahaan publik Indonesia dimana mayoritas sahamnya (80,65%) dimiliki dan dikelola oleh LafargeHolcim Group, yang berbasis di Swiss, produsen semen terbesar di dunia dengan total lebih dari 115,000 karyawan dan beroperasi di lebih dari 90 negara di seluruh benua.
Sebagai salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia, PT Holcim Indonesia Tbk menjalankan usaha yang terintegrasi terdiri dari semen, beton siap pakai, dan produksi agregat. Perusahaan mengoperasikan empat pabrik semen masing-masing di Narogong, Jawa Barat, Cilacap, Jawa Tengah, Tuban di Jawa Timur dan Lhoknga, Aceh dengan total kapasitas gabungan per tahun 15 juta ton semen, dan mempekerjakan lebih dari 2,500 orang.
PT Holcim Indonesia Tbk saat ini mengoperasikan jaringan penyedia bahan bangunan terbesar di dalam negeri, yang mencakup distributor khusus, toko bangunan, ahli bangunan binaan Holcim dan solusi-solusi bernilai tambah lainnya.
Informasi lengkap dapat diperoleh dari:
Diah Sasanawati (Anna)
Corporate Communications Manager
PT Holcim Indonesia Tbk
Phone : 62 21 2986 1000 ext 8361
Mobile : 0813-8181 8554
e-mail : diah.sasanawati@lafargeholcim.com
website: www.holcim.co.id
Ian Rolando Ferdinandus
Media Relations & Digital Communications
PT Holcim Indonesia Tbk
Phone: 62 21 823 1260 ext 5700
Mobile : 0818-103196
e-mail : ian.ferdinandus@lafargeholcim.com
website: www.holcim.co.id
The post Holcim Buktikan Tetap Bertahan Walau Pasar Lesu di Tahun 2015 appeared first on Bekasi Media.
Sumber Suara Jakarta