Bekasimedia – Setelah tabligh akbar di Masjid Istiqlal Jakarta pada Minggu (17/7/16), Wahdah Islamiyah melanjutkan agenda Muktamarnya di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (19/7/16) ini dengan seremoni pembukaan.
Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) dan Mantan Menpora Adhyaksa Dault turut hadir di Pondokgede. JK tiba pukul 08.15 WIB mengenakan kemeja batik dan peci warna hitam. Sedangkan Adhyaksa Dault tiba di lokasi pada pukul 08.00 WIB.
Tema Muktamar III Wahdah Islamiyah kali ini adalah ‘Mewujudkan Indonesia Damai dan Berperadaban dengan Islam yang Wasathiyah’. JK diundang untuk meresmikan pembukaan muktamar ini.
Dalam sambutannya, JK menyampaikan bahwa ada dua hal yang patut dibanggakan dari negara ini. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Kedua, mayoritas pemeluk agama Islam di Indonesia berpaham moderat dan menjunjung tinggi toleransi.
“Selalu kita bersyukur atas situasi seperti ini. Walaupun terkadang kita berpikir apakah itu cukup? Tentu belum cukup. Hanya dua hal yang menjadi kabar gembira bagi kita, yaitu jumlah dan pemikiran. Tapi itu termasuk potensi yang sangat besar untuk bangsa ini. Kita memahami bahwa Islam bukan hanya sebagai agama tapi merupakan cara kita hidup damai di negeri ini. Kita selalu menghargai baik dengan umat maupun dengan negara lain,” kata JK.
JK juga mengingatkan, sebaiknya umat Islam juga gencar dan maju dalam bidang ekonomi. Tujuannya agar negara dan Bangsa ini bisa hidup makmur. Selama ini, umat Islam di Indonesia kurang menonjol di bidang ekonomi baik secara nasional maupun global. Ini terbukti dari 100 orang terkaya di Indonesia, hanya sekitar 10 persen yang muslim.
“Kita kurang berperan di wilayah ekonomi. Kita kurang berperan secara mendunia. Kita kurang dalam keilmuan. Apabila kita bicara tentang 100 orang terkaya di Indonesia, 90 persen diyakini bukan dari Umat Islam, paling tinggi 10 persen. Tapi kalau ada 100 orang dengan keterbelakangan ekonomi, 90 persennya adalah umat Islam. Situasi seperti ini merupakan tantangan di mana kita harus bekerja sama untuk menanganinya. Pemerintah harus menciptakan pemerataan yang baik. Bukan sekedar bagaimana caranya berakhlak baik, tapi juga berusaha bagaimana caranya agar membawa kehidupan yang baik,” kata JK.
“Selalu saya katakan bahwa doa kita keinginan kita, doa siapa saja, pasti ditutup dengan ‘Rabba atina fiddunya hasanah’. Itu pasti. Keinginan bahwa ingin mencapai kebahagian dunia kemudian mencapai kebahagian akhirat. Selalu dunia terlebih dahulu kemudian akhirat. Maka selalu saya sampaikan bahwa program ekonomi sangat penting,” tambahnya.
Untuk itu, JK berharap agar gerakan yang harus dilakukan jangan selalu terpusat pada kegiatan sosial, tetapi gerakan bidang ekonomi juga harus lebih digencarkan.
“Maka gerakan yang harus dilakukan bukan hanya sosial, tapi gerakan ekonomi juga mesti. Mengajak semuanya berani berdagang dengan baik. Menjalani profesi dengan baik. Itulah tujuan kita semua. Jangan hanya perhatikan bagaimana baju kita, bagaimana janggut kita, akan tetapi, tanyakanlah kerja kita apa? Usaha kita apa? Pertanian kita baik atau tidak? Jangan hanya sunnah Rasulullah yang berjanggut saja yang dijalani. Rasulullah juga berdagang, maka cobalah berdagang sesuai dengan sunnah,” imbuh JK.
“Kita akan dihargai sebagai bangsa yang maju kalau kita maju secara duniawi. Karena itulah kita mesti bisa membangun sekolah yang baik, madrasah yang baik, rumah sakit yang baik,” tukasnya.
Oleh Ahmad Zarqan
The post Jusuf Kalla: Umat Islam Harus Lebih Menonjol dalam Bidang Ekonomi appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta