Bekasimedia – Matahari terik langsung menyambut tepat ketika saya keluar dari taksi yang dinaiki, segera melangkahkan kaki memasuki gedung hotel yang akan menjadi tempat menginap di Bali selama dua hari. Hotel disini sangat kental dengan aksen kebudayaan Bali, disekeliling dinding terdapat lukisan pemandangan matahari terbenam di pantai Tanah Lot, patung-patung berjejer menyambut para tamu dari pintu masuk hingga meja resepsionis, ukiran-ukiran di dinding batu hingga atap yang sangat bercirikan Bali.
Hotel di Bali tak seperti hotel kebanyakan yang berada di Jakarta, semua hotel atau bangunan di Bali biasanya hanya berlantai dua sampai dengan empat lantai atau batas maksimum tinggi bangunan adalah 15 meter.
”Menurut kebudayaan dan kepercayaan orang Bali semua bangunan yang ada di pulau dewata ini tidak boleh menyaingi tinggi Pura Lempuyang yang tak lain adalah pura tertinggi di Bali,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Darmoko.
Saat saya ingin melanjutkan perjalanan ke Legian setelah reservasi di hotel, tiba-tiba jalanan yang hendak dilewati ditutup. Jalanan menjadi ramai dan padat semua orang ingin berbalik namun sudah terlambat. Setelah keluar dari mobil, mata saya menangkap segerombolan orang dengan baju adat melewati jalanan yang ditutup itu berjalan mengarah ke pantai, saya memberanikan diri bertanya apa yang sedang terjadi dan seorang wanita paruh baya disebelah dengan nada bicaranya yang sangat kental ciri khas Bali menjelaskan bahwa sedang ada upacara ngaben.
”Upacara ngaben merupakan salah satu ritual adat berupa upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali. Upacara ngaben menurut kepercayaan merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi atau roda kematian,” ujar Nyi Ketut Ayu.
Ia pun menceritakan berbagai macam adat Bali lainnya, salah satunya sistem pemberian nama pada orang bali atau anak yang baru lahir. Nama yang diberikan biasanya berdasarkan urutan kelahirannya, jika dia anak pertama akan diberi nama Putu atau Wayan, kedua Made, ketiga Nyoman, dan keempat Ketut, jika anak atau persaudaraan lebih dari empat orang anak maka akan kembali lagi keurutan pertama, begitu yang tertangkap dari penjelasannya Ni Ketut Ayu. Setelah banyak mengobrol dengan ramah dan telah berbagi informasi yang sekaligus menjadi ilmu baru bagi saya, jalanan sudah kembali normal dan saya berpamitan kepadanya.
Hari terakhir di Bali saya menghadiri ritual pernikahan Tante saya di daerah Ubud. Saya berjalan memasuki rumah adat Bali yang sangat luas dan sudah dipenuhi oleh orang-orang. Saat masuk, seorang laki-laki memberikan kain yang katanya harus diikatkan dipinggang, entah apa tujuannya saya menurut saja. Di hadapan sudah ramai orang melihat upacara yang sedang berlangsung, di sana berdiri kedua mempelai. Pengantin perempuan melemparkan sebuah telur yang harus ditangkap oleh pengantin laki-laki. Ritual selanjutnya mempelai laki-laki diajak kebelakang rumah dan meminum air dari dalam kelapa yang sudah dikubur di dalam tanah. Lalu saat saya melihat ke sisi lain rumah saudara mempelai wanita sedang mengikuti ritual potong gigi, setelah itu mempelai pria masuk ke kamar tersebut lalu mengikuti ritual potong gigi.
Selain itu ada beberapa informasi mengenai rumah adat bali. Rumah adat bali memiliki beberapa bagian, jadi tidak seperti rumah pada umumnya didaerah lain. Rumah adat Bali memiliki ruangan-ruangan yang terpisah seperti rumah utama, dapur, rumah tamu dan kamar mayat atau sebagainya, kebetulan di rumah Tante ini yang sangat luas setap bangunan mengelilingi taman jadi letak taman berada di tengah-tengah antara rumah utama, dapur, kamar tamu, ruang tamu dan kamar mayat. Kamar mayat dirumah ini persis di tengah-tengah rumah, kamar mayat ini biasanya tempat menyimpan jenazah keluarga yang belum dilakukan upacara ngaben, maka disimpan di sini. Kamar mayatnya juga hanya berupa kamar tanpa dinding yang hanya ditutupi gorden melingkar.
Setelah menjalankan berbagai macam ritual, kedua mempelai akhirnya diarak oleh orang-orang untuk mengitari desa ini namun bukan untuk hal buruk atau sebagainya. Namun memang bagian dari ritualnya untuk mengadakan arak-arakan kepada calon pengantin.
Oleh: Devi Nurlita
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta
The post Ekplorasi Budaya Bali, Dari Nama Hingga Adat Pernikahan appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta