Bekasimedia – Mungkin banyak dari Anda yang pernah berpikir untuk menginvestasikan uang ke dalam bentuk saham. Berharap uang yang Anda belikan saham di kemudian harinya akan bertambah banyak dalam waktu cepat. Namun, kenyataannya tidak semudah yang diharapkan.
Sudarno, S.E, M.Si. sebagai pelaku investasi saham sekaligus pengajar di Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Jakarta, berbagi pengalaman dan pengetahuannya seputar saham. Ia mengatakan, prinsip saham adalah investasi jangka panjang, bukan hari ini beli dan besoknya dijual mendapat untung. Kebanyakan orang berpikir investasi saham secepat itu, namun kenyataannya tidak.
Pria lulusan S1 Universitas Jenderal Soedirman dan S2 Universitas Indonesia ini, sudah lama berinvestasi di saham. Berbasis sarjana ekonomi membuatnya paham betul saham itu apa. Walaupun sudah tertarik pada dunia saham sejak mahasiswa, Sudarno baru berinvestasi saham saat pertama kali ia bekerja.
Sudarno bercerita, membeli saham pada zaman dulu tidak semudah membeli saham pada saat ini, karena sekarang sudah bisa pakai internet. Dulu sebelum ada softwarenya, membeli saham harus melalui broker, yaitu pihak yang melakukan jual beli saham yang terdaftar di busra efek. Broker juga belum banyak, hanya ada beberapa di kota-kota besar, jadi kirim pesan harus melalui fax.
Saat ini membeli dan menjual saham bisa dilakukan melalui smartphone. Namun, bagi Anda yang ingin memulai berinvestasi saham, Anda tetap harus mendatangi broker terlebih dahulu untuk mendaftarkan diri dan membuka rekening. Sudarno mengatakan bahwa minimal modal untuk umum adalah 10 juta rupiah, untuk kalangan mahasiswa minimal modal bisa lebih rendah tergantung broker.
Sambil memperlihatkan sebuah aplikasi saham online di smartphone, Sudarno menjelaskan bahwa pergerakkan saham itu terjadi setiap saat, setiap detik. Warna biru menunjukkan bahwa harga saham sedang naik, sedangkan warna merah menandakan harga saham tersebut baru saja turun. Empat digit huruf di tabel sebelah kiri merupakan nama perusahaan di bursa saham. Warna merah pada tabel broker mengartikan broker dan seller asing.
Pergerakkan naik dan turunnya harga saham yang begitu cepat dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya adalah faktor fundamental, teknikal, dan efek psikolgis
Untuk mempelajari, mengetahui, dan menganalisis pergerakkan harga saham, perlu waktu yang tidak sebentar. Harus membaca, mencari referensi, melihat laporan keuangan suatu perusahaan, dapat membaca grafik dan neraca saham. Semua itu dapat ditemukan pada media cetak yang khusus menerbitkan seputar dunia ekonomi, atau bisa melihat di internet. Karena perusahaan yang sudah go public wajib mempublikasikan laporan keuangannya di website mereka masing-masing.
Memilih Perusahan yang Tepat
Jika ingin membeli saham, harus dilihat trackrecord perusahaaan, produk yang dihasilkan perusahaan. Cari produk yang dibutuhkan oleh masyarakat setiap saat, seperti uang, bahan pokok, pulsa, dll. Karena perusahaan yang menghasilkan produk-produk seperti itu, harga sahamnya cenderung lebih stabil.
Perusahaan-perusahaan tersebut digolongkan sebagai saham Bluechip, yaitu saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Pergerakkan harga saham Bluechip tersebut tidak terlalu signifikan. Karenanya, keuntungan yang didapat jika harga sedang naik hanya di kisaran dua sampai lima prosen saja. Namun, hal itu baik untuk pemula yang baru memulai berinvestasi saham karena rendah risiko.
Sudarno mengatakan, jika dirinya masih muda ia akan lebih memilih saham daripada menabung sebagai tempat menginvestasikan uangnya. Meski begitu, ia tidak menyarankan untuk menginvestasikan uang di satu jenis saja. Harus menginvestasikan di berbagai jenis investasi, seperti deposito, sukuk, rumah, tanah, dan lainnya, tidak hanya di saham saja.
Sudarno mengumpamakannya dengan istilah, taruhlah telurmu dalam beberapa keranjang, jangan hanya pada satu keranjang karena apabila keranjang tersebut jatuh maka semua telur yang ada di dalamnya akan pecah. Sama seperi uang, jangan hanya diinvestasikan pada saham atau satu jenis investasi saja, apabila merugi tidak ada lagi cadangan uang yang diinvestasikan di bidang lainnya.
Jika saya ingin memulai untuk berinvestasi saham mungkin saya akan mempertimbangkan atau bahkan mengikuti saran-saran di atas. Namun, seperti perumpamaan yang diucapkan oleh Sudarno, saya tidak hanya akan meninvestasikan uang saya pada satu bentuk investasi saja melainkan ke beberapa jenis investasi. Bagaimana dengan Anda, Apa sudah berniat dan berencana untuk berinvestasi saham?
Penulis: Novian Ardiansyah, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
The post Susah-Susah Gampang Berinvestasi Saham appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta